| Kinabalu, Pesona Wisata Alam di Bumi Borneo | | | |
DARI atas pesawat Boeing 737-800 Firefly, terlihat gemerlap lampu dari sebuah kota di ujung Bumi Borneo (Kalimatan). Jam menunjukkan pukul 21.45 waktu Malaysia. Namun kota itu masih sangat hidup dengan dinamika kehidupan malamnya. Kinabalu, itulah ibu kota Negeri Sabah, Malaysia. Nama ini ini diambil dari nama gunung yang tertinggi di Sabah dan juga ketiga tertinggi di Asia Tenggara yang bernama Gunung Kinabalu yang terletak di bagian Pantai Barat Sabah.
Begitu mendarat di bandara Kota Kinabalu, rasa penat setelah hampir empat jam "melayang" bersama Firefly yang membawa penulis bersama 23 orang rombongan yang mengikuti "Sumatera Fam Trip to Kinabalu Sabah Malaysia" (8-11 Mei 2011). Program pengenalan objek wisata di Kota Kinabalu ini langsung dipimpin Direktur Tourism Malaysia (TM) Medan Suhaimi Abu Hassan beserta Public Relations Manager TM Medan Ade Nova Zein serta Herijanto dari Firefly Medan.
Kegiatan ini atas prakarsa Tourism Malaysia Medan bekerja sama dengan Firefly yang merupakan salah satu anak perusahaan penerbangan MAS Malaysia diikuti 9 media dari Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Palembang serta para travel agen dari lima daerah tersebut.
Menginjakkan kaki di Kota Kinabalu pada malam hari tentunya memiliki kesan tersendiri. Layaknya kota-kota besar di Indonesia, kehidupan malam begitu terasa, mulai hiruk pikuknya orang-orang kafe, pub bahkan diskotik.
Bagi mereka yang tak suka hal-hal tersebut, tentunya punya pilihan lain. Kota Kinabalu yang memang terletak di pinggiran laut ini menjadi pesona tersendiri. Banyak orang yang diyakini bukan warga setempat, karena warga setempat kebiasaan sudah beristirahat di atas jam 22.00 waktu Malaysia (WM).
Wisata Malam
Kawasan pinggiran Laut China Selatan ini menjadi objek wisata malam yang mengasyikkan. Sebab, di sepanjang jalan Tun Fuad Stephen ini terdapat pusat jajanan yang menjual berbagai makanan dan minuman tradisonal dan dikawasan ini juga menjadi pusat penjualan kerajinan tangan khas Kota Kinabalu.
Hidupnya suasana malam di kawasan jajanan dan penjualan kerajinan tangan ini menjadi daya tarik tersendiri. Pasalnya, bagi orang-orang yang tak memiliki kantong tebal, bisa menikmati malam tanpa harus berkonkow di pub atau café yang harganya bisa menguras kantong.
Menariknya, dari berbagai pusat jajanan dan penjualan kerajinan tangan ini ada yang buka hingga pukul 01.00 WM atau pukul 00.00 WIB. Jika tak suka minuman beralkohol, di pusat jajanan ini juga dijual teh hangat atau kopi panas layaknya warung-warung kopi di Aceh ataupun Medan.
Sambil menikmati malam dengan memandang hamparan luas laut China Selatan, dengan kerlap-kerlip lampu kapal yang melintas, membuat suasana malam di Kota Kinabalu ini layaknya di kampung sendiri, sehingga betah berlama-lama hanya untuk duduk menikmati teh hangat atau teh tarik minuman khas Malaysia.
Konsep penataan kota yang memadukan pusat jajanan dan kerajinan tangan dengan taman bergaya kota modern, satu yang tak ditemukan kaum gelandangan atau pengemis yang tertidur di emperan tanam atau toko. Memang kawasan pusat jajanan ini dijaga oleh petugas kepolisian setempat, sekaligus sebagai pusat informasi bagi para turis yang berada atau tersesat dikawasan tersebut.
Pulau Manukan
Memasuki hari kedua, di Kota Kinabalu kami diajak melihat panorama alam di Pulau Manukan yang merupakan bagian dari Taman Tunku Abdul Rahman. Jika naik speed boat kira-kira sekitar 15 menit dari Kota Kinabalu.
Taman Tunku Abdul Rahman, meliputi lima buah pulau, yaitu Pulau Gaya, Pulau Manukan, Pulau Mamutik, Pulau Sapi, dan Pulau Sulug dengan keluasan keseluruhan 4,929 hektar serta jaraknya dari Kota Kinabalu antara tiga hingga delapan kilometer.
Pulau-pulau ini merupakan tempat perlindungan pelbagai jenis tumbuhan dan hewan termasuk sejenis burung yang paling langka yaitu Burung Tambun atau Megapode yang kelihatan seakan-akan seekor ayam tetapi mempunyai kaki yang besar dan mengeluarkan bunyi seperti kucing.
Di lima pulau ini mempunyai pantai yang putih bersih dan perairan dipenuhi pelbagai jenis ikan dan terumbu karang. Kawasan ini juga cocok bagi orang yang memiliki hoby menyelam untuk melihat keindahan dasar laut.
Wakil Direktur Promosi untuk kawasan Asia Tenggara pada Kementrian Pelancongan (Pariwisata) Malaysia Zakaria Mohd Nani mengungkapkan, berbagai aturan keras diberlakukan di Taman Tunku Abdul Rahman. Seperti larangan menangkap ikan, mengambil terumbu karang dan segala sesuatu yang merusak lingkungan.
Bagi wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang melanggar aturan tersebut, Pemerintah Negeri Sabah telah memberlakukan hukuman keras yakni berupa denda antara RM25.000-RM100.000 atau setara dengan Rp7.500.000 hingga Rp300 Juta jika kurs mata uang Rp3.000 per RM1 dengan ancaman hukuman penjara 1-3 tahun.
Pemandu perjalanan Fred dari Dynamic Tour Travel yang menemani rombongan Sumatera Fam Trip to Kinabalu, Sabah Malaysia mengungkapkan, setiap harinya pengunjung ke taman Tunku Abdul Rahman ini bisa mencapai 200-300 orang dari berbagai Negara Eropa, Amerika, Asia termasuk Indonesia. Namun, jika hari libur atau akhir pekan pengunjung bisa mencapai 500-an orang.
Sebuah investasi wisata yang menjanjikan. Dilengkapi dengan infrastrukur yang mendukung. Sehingga berbagai akses menuju ke lokasi wisata dikelola dengan baik dan termenej dengan baik pula. Peran berbagai pihak, mulai dari pemerintah, swasta dan pengelola objek wisata hingga ke masalah penerbangan terbangun dengan sinergi.
"Pemerintah hanya menjadi fasilitator dalam pengembangan pariwisata di Kinabalu ini," Datuk Sari Suhut, Wakil Direktur Sabah Tourism Board (Dinas Pariwisata Negeri Kinabalu).
Hanya saja, fasilitas dan dan fasilitator yang dilakukan Pemerintah Sabah ini, tentunya membawa Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sebab, kedatangan turis mancanegara ke Sabah, sudah pasti mereka tidak hanya sekedar jalan-jalan lalu langsung pulang, namun pasti akan menginap di Sabah, minimal 2 hari.
Jika dikalkulasikan rata-rata, per orang menghabiskan RM1.000/hari mulai dari penginapan, transportasi, konsumsi dan kebutuhan kecil seperti souvenir, maka jika hitungan Fred tadi per hari ada 200-an orang ke Pulau Manukan berati incam bagi masyarakat setempat bertambah dan secara otomatis juga masuk ke pendapatan daerah.
Pelajaran
Jujur diakui, memang objek wisata pantai yang terdapat di Kinabalu tak jauh beda dengan keindahan pantai di Aceh seperti Pantai Lampu’uk, Ujong Batee bahkan Ulee Lhe. Hanya saja, di tiga pantai di Aceh terutama di Banda Aceh dan Aceh Besar ini nyaris tak terawat dan infrastruktur pendukung sama sekali tak mendukung.
Berulang kali upaya pembenahan infrastuktur pariwisata ini dilakukan, namun tak pernah tuntas. Padahal pejabat dan anggota dewan dari Aceh telah berulang kali pula jalan-jalan ke luar negeri, termasuk Malaysia, namun tidak mampu menyerab ilmu kepariwisataan dari Negara yang dikunjungi.
Benar juga kata rekan Hari Sugiarto dari Harian Padang Ekspres, kalau pejabat dan anggota dewan kita melakukan studi banding ke luar negeri hanya menghabiskan uang rakyat saja, namun tak ada realisasi hasil studi banding tersebut bagi pembangunan daerah yang sinergi demi majunya pariwisata daerah.
Bukan bermaksud membandingkan antara satu Negara dengan Negara kita, namun sudah layaklah kiranya Indonesia, Aceh khususnya melakukan sinergivitas dalam membangun dunia pariwisata. Sehingga, "Visit Banda Aceh Year 2011" tidak hanya jadi program diatas kertas saja dengan moment yang terkesan insidentil. •••
Tidak ada komentar:
Posting Komentar